Kita Tidak Boleh Mempertanyakan Tuhan?

Semua berawal dari kedatangan seorang mahasiswi di sekolah saya dalam rangka menyelesaikan program dari kampusnya. Singkat cerita ia memasuki kelas dan sembari memperkenalkan diri dan memaparkan maksud dan tujuan nya datang di kelas saya. Selang beberapa waktu, ia mulai memaparkan materi sesuai dengan program studi yang sedang ia tempuh di kampusnya. Hingga tiba pada pembahasan mengenai filsafat. Ada sebuah argumen dari ia yang hingga hari ini masih membekas di memori saya. Bunyi nya seperti ini "Ketika seseorang mempelajari filsafat, ia akan cenderung mempertanyakan banyak hal. Namun, apabila ia mempertanyakan Tuhan ia harus berhenti. Karena kita tidak boleh merasionalkan Tuhan."
Sekarang saya akan membahas dua kalimat terakhir dari argumen kakak mahasiswi itu.
Namun, sebelum saya membahas dua kalimat terakhir dari penggalan argumen tersebut. Eloknya kita harus memahami makna filsafat terlebih dahulu
Mengutip dari wikipedia, Filsafat terdiri dari dua kata
"Philo" berartI kebijaksanaan dan "Sophia" berarti cinta.
Secara harfiah filsafat berarti cinta akan filsafat.
Saya cukup heran mengapa banyak yang membenturkan filsafat dengan agama seolah filsafat adalah jalur paralel menuju pengkhianatan terhadap agama. Padahal agama pun mengajarkan cinta dan kebijaksanaan. Secara filosofis selama ini, tanpa kita sadari. Kita telah berfilsafat. Masya Allah.
Lantas, mengapa kita masih membenci sesuatu yang justru kita lakukan tanpa sadar selama ini? Itulah pentingnya memahami sesuatu sebelum menghakimi.
Baiklah, saya akan membahas dua kalimat terakhir dari argumen tadi.
Katanya, kita tidak boleh mempertanyakan Tuhan atau dengan kata lain kita tidak boleh merasionalkan Tuhan.
Menurut saya, sah sah saja apabila seseorang mempertayakan segala hal. Tak terkecuali Tuhan. Dalam berfilsafat kita harus berpikir radikal. Mengutip buku (Filsafat Hukum) karya Abdul Ghofur Anshori
Kata radikal berasal dari kata "radix" yang berarti akar. Sehingga berpikir radikal bermakna sampai ke akar suatu masalah, Mendalam sampai ke akar akarnya, bahkan melewati batas batas fisisk yang ada, memasuki medan penggambaran di luar sesuatu yang fisik.
Dalam filsafat, seseorang mencari dan menemukan jawaban dan bukan hanya dengan memperlihatkan penampakan (appeareance) semata, melainkan menelusurinya jauh di balik penampakan itu dengan maksud menentukan sesuatu yang disebut nilai dari sebuah realitas.
Jadi, menurut saya. Tak ada batasan serta larangan dalam berfilsafat. karena filsafat adalah melibatkan seni berpikir radikal.
Satu lagi, ketika kita menggunakan jangkauan pikiran kita dengan maksimal. Bukankah itu merupakan salah satu bentuk rasa syukur kita kepada Tuhan karena telah diberi kemampuan untuk berpikir?

Comments

Popular posts from this blog

Memahami Penyesalan Melalui "pappaseng to riolo"

Hidup Memang Tidak Adil (!/?)