Memahami Penyesalan Melalui "pappaseng to riolo"

Judul di atas sangatlah menarik untuk dibahas pada postingan kali ini, sebagai pewarna dan pemanis bagi beranda media sosial saya.
Di masyarakat bugis, mutiara kebijaksanaan tak selalu disuratkan melalui buah tutur guru atau orang tua kita melalui kata kata lugas nan tegas. Namun, seringkali disiratkan melalui syair syair indah nan menghanyutkan bagi jiwa. Tak jarang, syair syair indah nan menghanyutkan tersebut justru terlalu bias untuk dipahami oleh anak usia dini yang selalunya menjadi sasaran dari syair syair indah tersebut. Termasuk saya sendiri, Saya terhanyut oleh keindahan syair tersebut tanpa memahami pesan yang terkandung. Salah satu syair mutiara hikmah terindah yang baru mampu saya pahami ketika beranjak dewasa adalah syair indah lagu "Alama sea sea"
Sewaktu kecil, lirik alama sea sea adalah untaian kata yang paling sering menghampiri telinga saya.
Hingga tiba masa di mana saya mencoba memaknai syair bugis terindah bagi saya pribadi.
Sebelum menyelami makna dan menemukan mutiara kebijaksanaan dalam syair ini, mari kembali bernostalgia dengan membaca lirik lagu Alama Sea Sea;
Alama sea-sea mua
Tau naompori sesse’ kale
Nasaba riwettu baiccu’na
De’memeng naengka nagguru

Baiccu’ta mitu nawedding siseng
Narekko matoani masussani
Nasaba maraja nawa-nawani
Enrengnge pole toni kuttue

Setelah sedikit bernostalgia dengan keindahan syair di atas, Mari membedah makna satu persatu kalimat pada syair Alama Sea Sea

Alama sea-sea mua                   
 (Alangkah sia sianya)
Tau naompori sesse’ kale           
 (Manusia yang dilanda penyesalan)
Nasaba riwettu baiccu’na         
 (Karena di masa kecilnya)
De’memeng naengka nagguru  
 (Tidak pernah belajar)

Baiccu’ta mitu nawedding siseng
(Waktu kecil lah belajar itu diperlukan)
Narekko matoani masussani
(Ketika sudah dewasa akan susah)
Nasaba maraja nawa-nawani
(Karena telah banyak pikiran)
Enrengnge pole toni kuttue
(Kemalasan juga akan menghampiri)

Sungguh sebuah syair yang indah nan sarat makna. Bahkan terlalu indah untuk dipahami oleh saya sendiri ketika pertama kali mendengar syair ini bersenandung.
Saya sepenuhnya sepakat dengan mutiara hikmah yang tersirat dalam syair indah ini, Berisi tentang nasihat untuk memulai belajar sedini mungkin, memupuk kebiasaan untuk belajar dan belajar. Karena belajar adalah satu satunya cara untuk menggapai apa yang kita mau. Biasakanlah untuk belajar dan belajarlah untuk terbiasa.
Belajar, belajar dan belajar.
Belajar untuk melawan ego, belajar untuk melawan hawa nafsu dan belajar untuk melawan kemalasan.
Kemenangan paling memuaskan adalah kemenangan atas diri sendiri dan kekalahan paling memalukan adalah dikalahkan oleh diri sendiri.
Kemauan untuk membangun negeri harus diikuti oleh kemauan untuk belajar membangun negeri. Karena bangsa ini akan bersinar apabila otaknya bercahaya.
Akhir kata, Saya ingin banyak berterima kasih kepada Orang tua, Guru dan orang orang yang senantiasa melantunkan syair indah nan sarat makna di atas. Semoga kalian sehat selalu, dilimpahkan rezeki dan senantiasa dirahmati oleh Allah di setiap langkah. Aamin
Peluk hangat, Terima kasih.

Comments

Popular posts from this blog

Hidup Memang Tidak Adil (!/?)

Kita Tidak Boleh Mempertanyakan Tuhan?