Bisakah Agama Dinista dan Tuhan Dibela? (Tuhan Ada di Hatimu)
Martin Lings atau juga dikenal dengan nama Abu Bakar Sirajuddin adalah di antara mualaf yang menarik untuk dibahas. Setelah masuk islam, ia mempelajari bahasa Arab dan ilmu ilmu hingga sufisme. Bahkan ia mengamalkan tasawuf di bawah bimbingan Tarekat syadziliyah. Ketika seorang menjadi mualaf, Semestinya ia fokus menjalani agama yang baru dianutnya, yaitu islam. Bukan justru fokus pada agama yang ia tinggalkan. Sehingga ia harus belajar islam dengan fokus, intens dan konsisten untuk memperdalam ilmu dan memupuk amal keislamannya. Kemudian berkarya tentang ilmu islam. Bukan sebaliknya, justru dakwahnya melakukan kritik tidak adil atau bahkan menebar kebencian atas agama sebelumnya.
Lings Menulis biografi Nabi Muhammad yang kemudian menjadi biografi Nabi Muhammad terbaik dalam bahasa inggris. Ia mendapatkan apresiasi pada konfrensi Sirah Nanasional di islamadab tahun 1983. Ia juga mendapatkan perhatian dari Universitas AL-Azhar hingga mengantarkannya mendapatkan bintang kehormatan pada tahun 1990.
Dalam biografi tersebut terdapat kisah menarik yang ditulis oleh Lings; tentang pasukan Abrahah yang hendak menaklukkan Makkah dan menghancurkan Ka'bah. Pada saat itu orang orang Quraisy yang menganggaap Ka'bah adalah tempat bersemayamnya Tuhan, berkumpul untuk memikirkan cara menggagalkan rencana Abrahah tersebut. Pada akhirnya mereka mengutus Abdul Muthalib- kakek Nabi. Karena waktu itu sosok Abdul Muthalib adalah yang paling dipercaya dalam menengahi konflik. Dengan sosoknya yang berwibawa dan tersohor, ia dipercaya untuk berunding dengan Abrahah. Namun, Ketika Abdul Muthalib dan Abrahah berunding, Sang paman Nabi hanya meminta kepada Abrahah untuk mengembalikan untanya sebanyak dua ratus ekor yang pernah dirampas oleh Abrahah. Dengan keheranan, Abrahah pun menyetujui hal itu. Sebelum Abdul Muthalib beranjak pergi, Abrahah bertanya dengan kebingungan. "Mengapa engkau hanya menginginkan untamu saja? Apakah kau tak berniat menghalau rencanaku untuk menghancurkan Ka'bah, Bukankah itu adalah rumah Tuhanmu?"
Dengan tenang nan bijaksana Abdul Muthalib menjawab "Dua ratus unta ini adalah hak ku, sudah kewajiban bagiku untuk mempertahankannya, Sedangkan rumah Tuhanku adalah kewajibanNya"
Abrahah kemudian membalas dengan nada angkuh "Namun Tuhanmu tak akan pernah bisa mempertahankan rumahNya"
"Lihatlah nanti" Timpal Abdul Muthalib sembari beranjak meninggalkan Abrahah.
Kemudian seperti yang kita ketahui, Allah mengutus burung Ababil yang dengan mudahnya meluluh lantakkan Abrahah dan pasukannya.
Dari kisah ini kita belajar bahwa, Perlukah Tuhan untuk dibela?
Dalam kolom majalah Tempo yang terbit pada 28 Juni 1982, Gus Dur menulis bahwa "Tuhan tak perlu dibela" Grand Syaikh Al-Azhar Mesir, Ahmad Muhammad Ahmad Al-Thayyeb dan Paus Fransiskus dalam pertemuan pertemuan Persaudaraan Manusia Uni Emirat Arab (UEA) pada 4 februari 2019 menandatangani sebuah dokumen bersejarah, Yaitu:
"A Document of Human Fraternity and for World Peace and Living Together" (Dokumen Persaudaraan Manusia Untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama" yang juga memuat pesan:
God, The almighty. Has no need to be defended and does not want His name be used to terorize people
(Tuhan, Yang Maha Kuasa tak perlu dibela dan tak ingin namaNya digunakan untuk meneror orang orang)
Namun, Jelas ada beberapa ayat, Tak hanya satu. Yang menegaskan agar orang mukmin menolong agama Allah. Misalnya ayat yang berbunyi: Hai orang orang mukmin, jika engkau menolong (agama) Allah, Niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (QS Muhammad [47]:7).
Ayat itu justru menegaskan bahwa Tuhanlah yang sebenar benarnya memiliki kekuatan. Yang dapat menolong dan meneguhkan kedudukan kita.
Tapi bukankah kita harus membela Tuhan? Tentu!
Namun bagaimana cara kita menolongNYa? Di sinilah kerancuhannya. Kebanyakan orang salah kaprah terhadap makna "Menolong Tuhan". Pertama, Ada yang berpendapat nyerempet syirik karena menganggap Tuhan benar benar harus kita tolong. Sehingga jikalau kita tidak menolongNya maka kedudukanNya akan terancam. Padahal siapa juga yang mampu mengancam sang Mahakuasa? Plus, sehebat apa kita ingin sok menolong Sang pencipta?
Kedua, sebagian menganggap ketika ia dihina maka Tuhan juga dihina hanya karena ia adalah hamba atau pengikut Tuhan. Kalau dia marah, Maka Tuhan juga marah. Sehingga pembelaan atas Nama Tuhan hanyalah pembelaan atas ego suatu kelompok saja.
Propaganda atas nama Tuhan tak hanya menimpa umat islam masa kini, Namun telah ada sedari dulu. Sebagaimana dikisahkan dalam Surah Al-Anbiya [21] ayat 68, orang orang musyrik di zaman Nabi Ibrahim juga menggunakan nama Tuhan untuk melakukan propaganda dalam kebatilan dan membakar Nabi Ibrahim dengan berkata:.... Bakarlah dia dan bantulah Tuhan Tuhanmu, jika kamu benar benar hendak bertindak.
Ketiga, adapula yang membela Tuhan dengan cara yang bertentangan dengan prinsip prinsip luhur yang telah Tuhan turunkan kepada para pembaya risalahNya. Yaitu membela Tuhan dengan hinaan, kekerasan bahkan teror. Oleh karena itu, Gus Dur, Al-Azhar dan paus mengkritik keras dengan diktum "Tuhan tak perlu dibela"
Lalu pertanyaan selanjutnya, Apakah agama bisa dinista? Bisa!
Tapi oleh siapa? Orang dari luar agama itu?
Agama adalah ide seperti ide tentang demokrasi dan ide ide lainnya. Bedanya, para pemeluknya meyakini bahwa ide itu datang dari Tuhan. Dan, bagi pemeluknya adalah sui. Karena islam adalah ide yang suci, maka ia tak akan bisa dinista oleh orang orang di luar agama itu. Jika seseorang mencoba menista sesuatu yang suci maka kenistaan itu kembali lagi pada dirinya. "Jika kau menista rumah ibadah agama lain, maka iman mu lah yang telah hangus"
Ada era di mana islam dihadapkan dengan para orentalis yang melakukan penelitian serius tentang islam untuk menghancurkan sendi sendi agama ini dari dalam. Namun apa hasilnya? Muncul rentetan sarjana muslim yang menjawab tantangan itu dengan cakap. Bahkan muncul para sarjana barat yang mualaf. Lings, Misalnya. Atau, Frithjof Schuon (nama muslimnya : Isa Nuruddin Ahmad) Seorang filsuf yang melahirkan karya karya eksplorasi mendalam tentang islam melalui filsafat. Juga Leopold Weiss (nama muslimnya : Muhammad Asad) seorang yahudi mualaf yang menulis tafsir Al Quran 30 juz dengan sentuhan rasional yang memukau. Selain itu nama nama seperti Seyyed Hossein Nasr, Annemarie Schimmel, Karen Amstrong dan sarjana sarjana barat muslim dan non muslim lainnya yang menulis karya tentang islam dan memberikan pemahaman tentang islam secara mendalam dan tidak tendensius kepada masyarakat barat. Kita meyakini islam adalah agama yang sempurna nan suci. Oleh karena itu ketika para orientalis memberikan kritik kepada islam, kita akan berusaha mencari jawabannya dengan penelitian mendalam terhadap islam. Bahkan, Naluri seorang sarjana non muslim yang objektif pun merasakan itu dan terpanggil untuk menjawabnya. Karena kita tau bahwa orang baik ada di semua agama dan tidak akan tahan dengan subjektivitas yang tendensius terhadap agama apapun.
Adapun yang membuat agama ternista adalah pengikutnya sendiri, bukan orang di luar agama itu. Citra islam akan ternista oleh pengikutnya jikalau mereka melakukan tindakan tidak islami dan melanggar ajaran ajaran agama. Dalam Shahih Bukhari-Muslim diriwayatkan "Demi Allah, Nabi tak pernah marah karena urusan pribadi, Namun ketika ajaran Allah dilanggar. Nabi marah karena Allah"
Oleh karena itu zaman ini dan beberapa dekade sebelumnya, Mereka yang ingin citra islam rusak tidak lagi berusaha menista islam dengan ujaran ujaran kebencian. Melainkan membentuk komunitas komunitas atau pribadi pribadi yang tindakannya condong merusak citra islam itu sendiri. Sebut saja, Taliban, ISIS, Al-Qaedah dan lain lain. Merka dibentuk dan didukung oleh kelompok kelompok yang menginginkan citra islam runtuh dengan melakukan teror dan propaganda yang membuat masyarakat luas salah kaprah terhadap islam.Semua tindakan tindakan itu membuat citra islam menjadi buruk dan menyebabkan orang orang menjadi islamofobia. Padahal islam adalah agama penuh cinta dan menjunjung tinggi perdamaian.
Maka rumusnya adalah sampai kapanpun agama tak akan bisa dinista oleh orang orang di luar agama itu, selama penganutnya tidak melakukan tindakan tindakan yang berlawanan dengan ajaran agama.
Oleh karena itu, Ketika kita dihina. Maka yang harus kita lakukan adalah mengintrospeksi diri dan membenahi tindakan apa yang sebaiknya kita lakukan untuk menyikapi hinaan tersebut. Bisa saja, Orang di luar agama ini menghina karena mereka melihat ada yang kurang tepat pada prilaku kita. Jika engkau dihina maka diamlah dan tinggalkan mereka. Niscaya mereka akan terlihat bodoh seperti badut yang sedang berlakon aneh.
Akhirnya, relasi harmoni antara umat beragama tak seharusnya dijaga melalui norma norma hukum positif. Jika di antara umat beragama atau di internal umat islam terjadi konflik, maka baiknya diselesaikan dengan pendekatan pendekatan yang bersifat kekeluargaan melalui cara cara dalam kebudayaan kita. Kita punya semua pranata sosial itu, Sebab jika urusan agama harus diatur melalui pendekatan hukum, Maka akan terjadi degradasi pada internal masing masing umat beragama di Indonesia. Karena sebegitu burukkah kesadaran umat islam dan umat beragama lainnya sehingga untuk menjadi harmonis harus melalui langkah hukum.
Akhir kata, Dulu agama turun untuk mendamaikan. Mengapa sekarang agama selalu dijadikan landasan untuk berbuat kerusakan dan menyebarkan ketakutan.
Comments
Post a Comment