Kesuksesan mu diukur dari siapa lawanmu

 


Pernahkah kita bertanya perihal bagaimana cara mengukur kualitas dari kesuksesan seseorang? Apakah dari rumah mewah dengan lokasi strategis yang ia miliki? Atau seberapa banyak mobil keluaran terbaru yang berbaris rapih di dalam garasi rumahnya?
Selalunya kesuksesan seseorang dinilai dengan materi yang ia miliki. Saya ingin mengajak anda untuk menemani saya mencari alasan yang lebih luas dari parameter kesuksesan seseorang.
Sepertinya, promosi dari merk merk ternama berhasil menggiring pemikiran kita tentang banyak hal. Tak terkecuali tentang parameter kesuksesan seseorang. "Dia sangat sukses, Jam tangannya saja Rolex " atau "Sukses sekali pria itu, mobilnya saja pabrikan asal Italia dengan logo kuda jingkrak"
Saya akan mengajak anda untuk keluar dari opini opini seperti di atas. Lalu, Apa parameter kesuksesan sejati menurut saya?
Beberapa waktu lalu saya sempat membahas hal yang sama dengan rekan berpikir saya sesama mahasiswa. Dia menjawab "Kesuksesan dapat dinilai dari dengan siapa engkau berteman" Saya cukup sepakat dengan argumen tersebut. Dalam pertemanan berlaku hukum " Quality attracts quality" di mana kualitas dari diri anda akan menarik orang orang yang kualitasnya sama dalam hubungan pertemanan anda. Jika dikaitkan dengan parameter kesuksesan menurut materi, maka dapat dianalogikan dengan para pemilik Ferrari hanya ingin berkumpul dengan sesama pemilik Ferrari. Sungguh lucu jika melihat ada mobil LCGC di barisan Ferrari. Lalu saya mengeluarkan argumen yang lebih radikal dengan berkata "kesuksesan diukur dari siapa lawanmu"
Jika kita bisa untuk memilih kawan dengan benar. Maka kita juga haru bisa memilih lawan dengan benar. Tak hanya pandai memilih kawan, orang sukses juga tak kalah cakap dalam memilih lawan. Mereka enggan bersaing dengan orang yang kualitasnya di bawah mereka. Singa tak pernah bertarung melawan tikus got bukan?
Teringat saya pernah berbantah bantahan dengan seorang dosen sewaktu semester tiga di universitas saya. Singkatnya, saya menyampaikan ketidaksetujuan saya atas argumen beliau perihal "perusahaan tak seharusnya melakukan politik" saya menyanggah dengan argumen "perusahaan harus melakukan politik, politik adalah seni yang harusnya dikuasai oleh semua pelaku bisnis. Mulai dari politik lobi lobi ke pemerintah, ke klien hingga politik kepada pesaing bisnis. Dengan berpolitik, perusahaan mampu meraih tujuannya dalam waktu yang efisien dibanding bersikap "sok polos" dengan enggan melakukan politik. Itulah dunia bisnis, semakin terang cahayanya, maka semakin gelap pula bayangannya"
Diskusi tersebut mengantarkan saya pada rasa bangga karena telah memilih lawan yang posisinya jauh lebih tinggi dan saya bisa mematahkan argumen dari dosen saya tersebut. Dengan demikian, peningkatan kualitas seseorang berbanding lurus dengan peningkatan kualitas lawan nya.
Akhir kata, bijaklah dalam memilih kawan dan lebih bijaklah dalam memilih lawan
Abdul Halim

Comments

Popular posts from this blog

Memahami Penyesalan Melalui "pappaseng to riolo"

Hidup Memang Tidak Adil (!/?)

Kita Tidak Boleh Mempertanyakan Tuhan?