"Agama dan Sains seharusnya diadu atau dipadu?"

Latar belakang saya mengangkat topik ini bermula dari percakapan saya dengan seorang kawan lama tatkala saya menunjukkan buku Jared Diamond yang berjudul "Gun,Germ and Steel"
Berikut percakapan saya:
"Buku apa yang saat yang sekarang sedang kamu baca?" tanya nya sembari melirik buku yang berada di atas meja
"oh ini? Ini buku sains karya Jared Diamond, saya suka buku ini karena meninjau sejarah manusia melalui kacamata seorang profesor geografi" jawabku
"kamu suka baca buku sains? hati hati loh, nanti kamu menentang agama mu sendiri" balasnya
"Kenapa seperti itu?" balasku bertanya
"iya, karena sains dengan agama sangat berbenturan. Agama dan sains bak musuh abadi yang tak akan pernah bisa dipadukan" Tegasnya.
Baiklah, Saya akan membahas topik tersebut menggunakan kacamata saya pribadi.
Sains seringkali dibenturkan dengan ajaran ajaran agama. Pada halaman 533 buku "Gun,Germ and Steel" menjelaskan sains sebagai berikut:
kata "Sains" berarti "Pengetahuan" ( dari kata latin scire, "Mengetahui" dan scientia, "Pengetahuan")
Namun, sangat disayangkan masyarakat kita masih menganggap Sains sebagai sesuatu yang justru dapat menyesatkan dan menjauhkan diri dari agama.
Saya ingin memberikan sudut pandang saya mengenai stigma masyarakat  yang saya sebutkan di atas.
Jika ditarik ke dalam sejarah agama islam. Rasulullah memerangi "Jahiliyah" artinya "kebodohan"
Allah berfirman:
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala  Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS.Al-Mujadalah: 11)
Allah bahkan berjanji untuk mengangkat derajat orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Masya Allah betapa mulia nya orang orang yang berilmu.
Bahkan banyak ilmuwan muslim yang menjadi cikal bakal banyak penemuan hebat dalam sejarah umat manusia
Sebut saja salah satunya Ibnu Sina yang digadang gadang sebagai bapak pengobatan modern. Salah satu karya nya yang paling terkenal adalah Qanun fi Thib yang menjadi rujukan di bidang kedokteran selama berabad abad.
Namun tak bisa dipungkiri bahwa sains dan agama tidak sepenuhnya sama, keduanya memiliki koridornya masing masing. Tatkala agama tidak masuk akal jika kita menggunakan pendekatan ilmiah. Di sinilah keimanan berperan penting untuk memilih dan memilah.
Mengutip Buya Hamka "Iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi, Ilmu tanpa iman bagaikan lentera di tangan pencuri"
Akhir kata, Agama dan Sains seharusnya dipadu bukan diadu.
Sekian dan terima kasih

Comments

Popular posts from this blog

Memahami Penyesalan Melalui "pappaseng to riolo"

Hidup Memang Tidak Adil (!/?)

Kita Tidak Boleh Mempertanyakan Tuhan?