BUANG SAJA SOPAN SANTUNMU KE TEMPAT SAMPAH, BUNG!
Sebuah kritik bagi dunia pendidikan di Indonesia.
Sebelum menyelami isi pikiran saya mengenai topik di atas, saya ingin memberi disclaimer terlebih dahulu. Semua argumen, opini yang terkandung dalam postingan kali ini adalah murni sudut pandang saya pribadi tanpa ada maksud dan tujuan untuk merendahkan pihak manapun. Hanya ingin menggunakan hak asasi saya sebagai warga negara untuk bebas berpendapat dan berekspresi.
Simak dengan saksama, selamat menikmati......
Semua bermula dari keresahan saya terhadap penggunaan "Sopan santun" yang seolah berhasil memenjarakan kreativitas dan keberanian seseorang untuk berbicara (bahkan tidak sedikit kebenaran yang dibungkam oleh belenggu sopan santun)
Sedari dini anak anak selalu diajarkan tentang kerangka moral pada masyarakat Indonesia, Salah satu tempat di mana sopan santun sangat dijunjung tinggi adalah di sekolah. Sewaktu sekolah, mulai dari sekolah dasar anak anak dididik untuk sopan santun, Sopan terhadap sesama teman, penjaga kantin hingga guru. Di sinilah kekeliruan bermula, (saya tidak mengatakan berlaku sopan santun adalah hal yang keliru) Ketika berada di dalam kelas, siswa dan siswi dituntut diam dan hanya boleh menyimak materi yang sedang disajikan oleh guru, terkadang juga siswa dan siswi diberi kesempatan untuk bertanya. Namun yang ingin saya kritisi adalah murid murid akan dianggap tidak sopan kepada guru tatkala mereka mengangkat tangan dan melayangkan kritik terhadap argumen yang disampaikan oleh sang guru. Bahkan tak jarang guru akan "melabeli" murid durhaka apabila tidak setuju dengan argumen yang disampaikan oleh guru. Bukankah ini adalah pembungkaman dalam berekspresi? Bukankah ini adalah kemunafikan dalam dunia intelektual? Entah sudah berapa banyak calon calon orator hebat yang potensinya dibunuh dengan kejam oleh seseorang yang katanya "Pendidik". Entah telah berapa banyak ide ide brilian yang mesti dikubur dalam dalam karena harus mematuhi sopan santun, Buang saja sopan santun mu, Bung!
Keluarkan semua keresahan dan ketidaksetujuanmu. Bungkus dengan ketajaman argumentasi dan lempar ke wajah guru mu!
Buang sopan santun itu ke tempat sampah!
Saya ingin menarik kita ke masa keemasan peradaban Yunani kuno, di Athena ibu kota Yunani, Ketika Plato mengajar, semua murid boleh berjalan kesana kemari selama kelas sedang berlansung. Sehingga retorika berjalan sebagaimana pikiran yang harus dibebaskan dari segala belenggu yang justru dapat menjadi pembunuh ide brilian yang ada di kepala. Begitu pula pada sistem pendidikan di negeri paman Sam. Negara dengan sebutan "Free country" menjunjung tinggi kebebasan dalam berbicara terutama dalam bangku sekolah. Seperti di kampus kampus, ketika seseorang mahasiswa tidak setuju dengan profesor, ia hanya perlu mengacungkan tangan dan berkata "Saya tidak setuju!" Betapa indahnya kebebasan menyampaikan ketidaksetujuan tanpa harus memutar otak memikirkan cara menyampaikan ketidaksetujuan dalam belenggu sopan santun.
Ujung tombak dalam memajukan sebuah bangsa terdapat pada sistem pendidikan, bangsa ini akan bersinar apabila otaknya berbicara.
Buang saja sopan santun mu ke tempat sampah, Bung!
Akhir kata, pikiran yang dikurung dalam belenggu sopan santun adalah kemunafikan dalam dunia intelektual.
Sekian dan terima kasih
Comments
Post a Comment