Kala Posisi Tuhan Tergantikan

 
Sebelum saya melanjutkan untuk membahas tema di atas, Saya ingin menyampaikan bahwa semua postingan di laman blog ini adalah opini dan pandangan pribadi tanpa ada maksud dan niat untuk merendahkan atau menyinggung pihak manapun. Baik, mari kita lanjut.
Awal mula saya berpikir tentang tema ini adalah ketika saya mendengar lagu dari Ahmad Dhani bersama mendiang Chrisye
judulnya "Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada"
lagu ini berhasil membuat pikiran saya dipenuhi oleh jutaan pertanyaan yang masih terlalu dini untuk dipertanyakan oleh anak berusia 14 tahun (usia saya 5 tahun lalu)
Beberapa pertanyaan yang muncul di kepala saya kurang lebih seperti ini:
Apakah kita semua benar benar tulus atau hanya takut kepada neraka Nya?
Apakah selama ini kita beribadah hanya sebagai ajang "cari muka" di hadapan Nya?
Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah ada yang mengingat Nama Nya?
Apakah kita hanya mengejar hadiah Nya?
kurang lebih seperti itulah beberapa pertanyaan yang "menghantui" saya bertahun tahun. Saya telah bertanya kepada banyak orang. Namun jawaban yang selalu saya dapat adalah jawaban yang terkesan klise atau dengan kata lain jawaban jawaban tersebut sudah basi dan kurang mampu menjawab pertanyaan pertanyaan saya yang kompleks.
Hingga tiba pada sebuah waktu di mana saya sedang menghadiri room tanya jawab di Clubhouse (sebuah aplikasi digital) bersama Ust. Mahru Iskandar.
Setelah saya dipersilahklan oleh moderator untuk bertanya, saya lalu mengajukan pertanyaan yang telah lama "menggerogoti kepala saya"
Simak pertanyaan saya
"Pertanyaan saya begini ustadz, Bagaimana dengan orang orang yang beribadah hanya untuk mengejar surga atau orang orang beribadah hanya karena takut neraka? Bukankah hal itu kemudian mengurangi esensi ibadah sendiri? Padahal kan esensi ibadah untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, Namun sekarang seakan posisi Tuhan digantikan oleh keinginan hamba Nya untuk memperoleh surga atau Ketakutan hamba Nya untuk terjerumus dalam neraka? Bagaimana pendapat ustadz tentang hal itu?"
Ustadz tersebut pun kemudian berkata
"Sebenarnya sah sah saja beribadah karena ingin mendapatkan surga atau karena takut terjerumus dalam neraka. Kenapa? Karena dengan beribadah dengan maksud demikian adalah salah satu bentuk keyakinan kita terhadap Allah Sang Maha Kuasa. Maha kuasa karena mampu menciptkan alam semesta dan isinya termasuk surga dan neraka. Saya ingin memberikan analogi seperti ini, Seorang anak SD ingin mendapatkan skor tinggi ketika ujian karena ia dijanjikan untuk mendapatkan hadiah apabila ia berhasil dan dia terancam untuk tinggal kelas dan mengulang lagi selama 1 tahun. Sah sah saja ia ingin mendapatkan nilai tinggi karena ingin mendapatkan hadiah atau agar ia tidak tinggal kelas. Dengan demikian, ia meyakini bahwa gurunya memiliki kekuatan untuk memberinya hadiah atau membuatnya tinggal kelas.
Satu lagi, keimanan setiap orang itu berbeda beda. Sama halnya keimanan kita dengan para sufi sufi yang mengabdikan jiwa raga mereka hanya untuk beribadah. "
Akhir kata, marilah kita senantiasa menyebarkan pengetahuan, kebaikan dan kebahagiaan kepada sesama manusia.
 Sekian dan terima kasih

Comments

Popular posts from this blog

Memahami Penyesalan Melalui "pappaseng to riolo"

Hidup Memang Tidak Adil (!/?)

Kita Tidak Boleh Mempertanyakan Tuhan?