Menilik Kekuatan Kebiasaan Melalui "Pappaseng to riolo"

 
Kebiasaan adalah salah satu penentu kesuksesan paling mutakhir bagi seseorang. Topik "Kesuksesan adalah hasil dari kebiasaan" atau "Kebiasaan adalah kendaraan menuju kesuksesan" tampaknya sudah sering kita jumpai. Entah itu pada seminar seminar kesuksesan atau buku pengembangan diri. Kekuatan kebiasaan sepertinya sangat sering digaungkan oleh motivator motivator hebat.
Saya pribadi telah membaca beberapa buku yang tak segan segan menempatkan kata "Kebiasaan" pada sampulnya. Sebut saja "Success habit oleh Napoleon Hill" Buku yang berisi pikiran brilian dari penulis favorit saya ini berhasil "Menggebrak" isi kepala saya dengan puluhan argumen kuat tentang kekuatan kebiasaan.
Lantas saya kembali berpikir, Apakah kebiasaan benar benar penting? Sebagaimana jargon jargon para motivator tentang kebiasaan.
Pertanyaan ini kemudian mengajak saya berpikir lebih dalam lagi, Seketika saya teringat dengan pepatah bugis yang sewaktu dini sering sekali digaungkan oleh orang tua dan guru saya.
Pepatahnya yaitu "Lele bulu tellele abiasang"
Mari mengarungi samudera kebijaksanaan dengan memaknai pepatah ini sembari sedikit bernostalgia.
Secara bahasa, Pepatah ini berarti
 "Gunung bisa dipindahkan, kebiasaan tidak"
Betapa hebatnya kekuatan dari kebiasaan, bahkan diilustrasikan lebih kuat dari sebuah gunung.
Saya pernah membaca sebuah jurnal (Lupa judulnya) yang membahas tentang bagaimana sebuah kebiasaan terbentuk, Riset tersebut menegaskan bahwa rata rata Manusia akan merasa terbiasa melakukan sesuatu apabila ia telah melakukan hal tersebut selama 21 hari berturut turut. Kebiasaan memang sangat sulit untuk dibentuk, namun juga sangat sulit untuk dihilangkan. Apakah hal ini berarti buruk? atau justru sebaliknya
Bisa keduanya!
Ketika seseorang telah memiliki kebiasaan baik, sebut saja bangun pagi setiap hari. Kebiasaan ini akan sangat sulit untuk dihilangkan dan akan terus menerus memberi manfaat baginya.
Begitu pula dengan kebiasaan buruk,
Ketika seseorang telah memiliki kebiasaan buruk, sebut saja kebiasaan merokok atau meminum minuman beralkohol, hal ini akan sangat sulit untuk dihilangkan bahkan pada sebagian besar kasus, kebiasaan merokok dan meminum minuman beralkohol cenderung mengantarkan seseorang pada perilaku kecanduan.
Mengutip Axl Rose (Vokalis band legendaris Gun and Roses)
Kebiasaan buruk sulit untuk dihentikan, jadi jangan berpikir untuk memulainya.
Koin selalu memiliki dua sisi, begitu pula kebiasaan.
Lalu, dari manakah kebiasaan itu dimulai? Saya kembali teringat oleh buku yang tempo waktu pernah saya baca. Judulnya "Make your bed" Karya Admiral Mcraven seorang pensiunan laksamana bintang empat Navy Seal (pasukan elit Amerika)
Mungkin judul buku ini membuat sebagian besar dari kita bertanya tanya alasan Admiral Mcraven mengambil judul demikian. Namun, setelah membaca buku ini. Saya memahami bahwa semua hal besar dimulai dengan hal kecil. "JIka kau ingin mengubah dunia, mulailah dengan merapikan tempat tidurmu. Jika kau merapikan tempat tidurmu setiap pagi. Kamu telah menyelesaikan tugas pertama mu dalam satu hari dan itu akan mendorongmu untuk menyelesaikan tugas tugas selanjutnya. Jika kau tidak mampu menyelesaikan tugas kecil dengan baik, kau tidak akan mampu menyelesaikan tugas besar dengan baik"
Demikianlah kutipan dari buku "Make your bed" yang juga ia kutip dalam pidatonya di University of Texas dan menjadi salah satu pidato terbaik sepanjang masa.
Setelah membahas panjang lebar mengenai kekuatan kebiasaan, Saya ingin menyimpulkan bahwa "manusia tidak dapat menentukan kesuksesannya, ia hanya mampu menentukan kebiasaannya. Lalu kebiasaannya lah yang akan menentukan kesuksesannya"
Akhir kata, Marilah terus menanam dan memupuk kebiasaan baik demi memetik buah manis dari pohon indah ini kelak.
Sekian dan Terima Kasih.

Comments

Popular posts from this blog

Memahami Penyesalan Melalui "pappaseng to riolo"

Hidup Memang Tidak Adil (!/?)

Kita Tidak Boleh Mempertanyakan Tuhan?