Para Remaja Pelaku Teror Busur di Makassar Harusnya Dibina Untuk Menjadi Atlet Panahan

 

Akhir akhir ini kota Daeng diresahkan oleh kelakuan para remaja pelaku teror busur  panah yang menyasar orang secara random di berbagai tempat tempat keramaian. Mereka nampaknya sangat akurat dalam melontarkan anak panah ke sasaran. 

Pelaku teror busur didominasi oleh para remaja atau anak baru gede yang katanya sedang mencari jati diri. Sebenarnya para bocah teroris ini dapat dengan mudah kita kenali dari gaya mereka berpakaian. Salah satu bocoran yang saya berikan adalah mereka selalu mengendarai motor matic sekelas mio,beat dan sejenisnya dan tak jarang penumpang (Sang pemanah) mengenakan hoodie dan memasukka kedua tangan mereka ke dalam saku hoodie tersebut, mungkin untuk menyembunyikan senjata pamungkas mereka.

Sebenarnya pihak kepolisian sudah melakukan tindakan kepada para bocah bocah caper ini. Tapi karena mereka kebanyakan masih berusia di bawah umur, mereka hanya diberi pembinaan lalu kembali dilepas. Hal ini tak pernah memberi efek jera kepada para bocah bau kencur itu. Bahkan banyak orang yang sudah pasrah terkait dengan teror ini, Orang orang mulai menoormalisasikan bahwa busur membusur di Makassar sudah menjadi budaya yang tak akan pernah bisa dihilangkan hingga kapanpun.

Namun, Apa penyebab dari para remaja ini  melakukan tindakan ini? Menurut saya adalah sebagai berikut:

1. Kebutuhan dasar bertahan hidup

Harus kita pahami bahwa kebanyakan dari pelaku teror busur ini berasal  dari daerah daerah rawan di  berbagai sudut kota Makassar yang menganggap tawuran merupakan sebuah kesenangan dan ajang mencari jati diri. Tak jarang tawuran terjadi lebih dari 4 kali dalam satu pekan. Sehingga skill melontarkan busur panah merupakan salah satu keahlian wajib yang harus dikuasai untuk bertahan hidup di daerah daerah  rawan tersebut.

2. Mencari validasi

Para remaja yang otaknya masih belum berkembang secara sempurna akan melakukan apa saja agar mendapat pengakuan, mereka rela melakukan apa saja hanya untuk mendapatkan gelar "jagoan" di tongkrongan mereka. Karena melakukan tawuran atau melontarkan busur panah kepada orang orang jauh lebih mudah dibanding berkompetisi pada olimpiade sains nasional, mereka dengan senang hati mengikuti syarat "keren" di tongkrongan mereka.

3. Memiliki gangguan kejiwaan/Psikopat?

Bisa saja beberapa dari pelaku ini mendapatkan ketenangan saat mereka melihat anak panah mereka menancap pada badan korban. Mereka mungkin senang melihat wajah penderitaan korban. Bagaikan narkoba yang menyebabkan kecanduan, para pelaku teror ini sepertinya merasa "ada yang kurang" dalam hidup mereka ketika tidak melontarkan anak panah ke tubuh orang tak bersalah.

Lantas, bagaimana pemerintah bisa menangani hal ini. Menurut saya pribadi, alih alih remaja ini dibina di kantor polisi (yang hanya berlansung satu malam lalu kembali dilepas karena masih di bawah umur) ada baiknya pemerintah mulai memikirkan untuk melatih mengembangkan potensi para remaja pelaku teror ini untuk menjadi atlet panahan yang bisa membanggakan daerah bahkan negara.

Dengan membina dan memberikan karantina maka akan men cutoff para remaja ini dari lingkungan mereka, Hal ini akan sangat mempengaruhi pola pikir dan rutinitas calon atlet. Mereka bisa  lebih fokus mengembangkan potensi, berlatih panahan didampingi oleh instruktur yang kompeten. Mereka juga akan mendapatkan uang saku dan makanan yang lebih sehat dan bergizi. Dengan pola hidup yang sehat, makanan yang bergizi dan bakat yang terarah dengan benar. Maka kesehatan mereka secara fisik dan mental akan sangat meningkat.

Terakhir, mereka akan membanggakan tak  hanya diri mereka sendiri. Namun, keluarga dan daerah asal mereka akan bangga kepada para atlet panahan ini. Validasi semcam ini akan membuat remaja ini merasa berharga dan semakin termotivasi untuk semakin berlatih dengan giat dan menyalurkan bakat mereka demi bangsa dan negara. Alih alih mendisiplinkan para pelaku teror ini dengan memberikan kekerasan, saya rasa pemerintah harus mulai lebih memahami dan merangkul para remaja ini untuk menyalurkan bakat terpendam mereka

Comments

Popular posts from this blog

Memahami Penyesalan Melalui "pappaseng to riolo"

Hidup Memang Tidak Adil (!/?)

Kita Tidak Boleh Mempertanyakan Tuhan?