Posts

Showing posts from February, 2023

Tentang Meneladani Orang Tua

 Ada sebuah kisah menarik yang pernah saya baca di sebuah buku (lupa apa judulnya). Di cerita itu mengisahkan tentang seorang ayah yang kerjanya hanya mabuk mabukan, pulang larut malam, bermain (maaf) pelac*r. Pria ini memiliki dua anak lelaki yang memiliki usia yang tidak terpaut jauh. Sebut saja si A dan B. Si A dan si B sudah terbiasa melihat kelakuan ayah mereka yang bisa dikatakan "gagal" menjalankan peran nya sebagai orang tua. Singkat cerita, mereka berdua telah tumbuh dewasa. Namun, terdapat perbedaan yang sangat dominan di antara mereka berdua. Si A berhasil menjadi pria yang sukses. Dia memiliki pekerjaan layak dan keluarga yang bahagia. Sedangkan si B menjadi pria yang tidak berbeda jauh dengan ayah nya. Dia menghabiskan waktunya dengan melakukan hal hal yang tidak berguna yang membuatnya "terperosok" dalam jurang kehampaan dan kesengsaraan. Ketika si A ditanya perihal kenapa dia bisa sesukses itu, si A menjawab dengan singkat "aku melihat ayahku...

Umat Muslim Harus Kaya

  Apa yang terlintas di pikiran anda ketika membaca awalan dari postingan saya ini? Apakah anda berpendapat bahwa saya terlalu mencintai dunia?  Mengutip tulisan Prof. Laode di buku nya yang berjudul  "14 Langkah Rasulullah Dalam Membangun Kerajaan Bisnisnya" Di buku ini, kita diajak untuk melihat Rasulullah dari sudut pandang lain. Sedari duduk di bangku sekolah dasar, kita hanya diceritakan kisah Rasulullah dalam memerangi orang orang kafir yang menolak keberadaan islam kala itu. Ternyata Rasulullah adalah pebisnis hebat pada masa nya. Rasulullah memulai bisnisnya tanpa modal uang. Namun, Rasulullah memiliki modal yang jauh lebih penting dari uang. Kegigihan, kejujuran dan kepercayaan. Sikap seperti itulah yang membuat Rasulullah menjadi pebisnis hebat pada masa nya, bahkan diriwayatkan Rasullah mendapat julukan al amin (yang dapat dipercaya). Masya Allah. Tahukah anda bagaimana kisah Rasulullah bertemu dengan khadijah? Iya, mereka bertemu melalui sebuah kesepakatan bis...

BUANG SAJA SOPAN SANTUNMU KE TEMPAT SAMPAH, BUNG!

Sebuah kritik bagi dunia pendidikan di Indonesia. Sebelum menyelami isi pikiran saya mengenai topik di atas, saya ingin memberi disclaimer terlebih dahulu. Semua argumen, opini yang terkandung dalam postingan kali ini adalah murni sudut pandang saya pribadi tanpa ada maksud dan tujuan untuk merendahkan pihak manapun. Hanya ingin menggunakan hak asasi saya sebagai warga negara untuk bebas berpendapat dan berekspresi. Simak dengan saksama, selamat menikmati...... Semua bermula dari keresahan saya terhadap penggunaan "Sopan santun" yang seolah berhasil memenjarakan kreativitas dan keberanian seseorang untuk berbicara (bahkan tidak sedikit kebenaran yang dibungkam oleh belenggu sopan santun) Sedari dini anak anak selalu diajarkan tentang kerangka moral pada masyarakat Indonesia, Salah satu tempat di mana sopan santun sangat dijunjung tinggi adalah di sekolah. Sewaktu sekolah, mulai dari sekolah dasar anak anak dididik untuk sopan santun, Sopan terhadap sesama teman, penjaga kanti...

Menilik Kekuatan Kebiasaan Melalui "Pappaseng to riolo"

  Kebiasaan adalah salah satu penentu kesuksesan paling mutakhir bagi seseorang. Topik "Kesuksesan adalah hasil dari kebiasaan" atau "Kebiasaan adalah kendaraan menuju kesuksesan" tampaknya sudah sering kita jumpai. Entah itu pada seminar seminar kesuksesan atau buku pengembangan diri. Kekuatan kebiasaan sepertinya sangat sering digaungkan oleh motivator motivator hebat. Saya pribadi telah membaca beberapa buku yang tak segan segan menempatkan kata "Kebiasaan" pada sampulnya. Sebut saja "Success habit oleh Napoleon Hill" Buku yang berisi pikiran brilian dari penulis favorit saya ini berhasil "Menggebrak" isi kepala saya dengan puluhan argumen kuat tentang kekuatan kebiasaan. Lantas saya kembali berpikir, Apakah kebiasaan benar benar penting? Sebagaimana jargon jargon para motivator tentang kebiasaan. Pertanyaan ini kemudian mengajak saya berpikir lebih dalam lagi, Seketika saya teringat dengan pepatah bugis yang sewaktu dini sering seka...

Memahami Penyesalan Melalui "pappaseng to riolo"

Judul di atas sangatlah menarik untuk dibahas pada postingan kali ini, sebagai pewarna dan pemanis bagi beranda media sosial saya. Di masyarakat bugis, mutiara kebijaksanaan tak selalu disuratkan melalui buah tutur guru atau orang tua kita melalui kata kata lugas nan tegas. Namun, seringkali disiratkan melalui syair syair indah nan menghanyutkan bagi jiwa. Tak jarang, syair syair indah nan menghanyutkan tersebut justru terlalu bias untuk dipahami oleh anak usia dini yang selalunya menjadi sasaran dari syair syair indah tersebut. Termasuk saya sendiri, Saya terhanyut oleh keindahan syair tersebut tanpa memahami pesan yang terkandung. Salah satu syair mutiara hikmah terindah yang baru mampu saya pahami ketika beranjak dewasa adalah syair indah lagu "Alama sea sea" Sewaktu kecil, lirik alama sea sea adalah untaian kata yang paling sering menghampiri telinga saya. Hingga tiba masa di mana saya mencoba memaknai syair bugis terindah bagi saya pribadi. Sebelum menyelami makna dan me...

Hidup Memang Tidak Adil (!/?)

Pasti sebagian besar dari umat manusia pernah beranggapan bahwa hidup ini tidak adil. Tak terkecuali saya, Saya pernah merasa hidup ini tidak adil! Saya beranggapan bahwa hanya sebagian orang yang dapat merasakan indahnya hidup, hanya sebagian orang yang terlahir di muka bumi yang dapat merasakan manisnya cinta dan kasih. Tapi, sebelum kita semakin tenggelam ke dalam pembahasan kita kali ini. Saya akan memberikan alasan mengapa orang orang beranggapan bahwa hidup ini tidak adil (melalui kacamata pribadi saya tentunya) Menurut saya, Selalunya anggapan anggapan seperti itu muncul  didasari oleh rasa keputusasaan dan kekecewaan terhadap diri sendiri atau bahkan kepada orang lain yang kita anggap bertanggung jawab dengan hidup kita (biasanya orang tua) Tapi ada salah satu kebiasaan yang paling sering dilakukan oleh orang orang seperti ini. Kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan orang lain, inilah yang membuat manusia merasa bahwa hidup ini tidak adil. Tatkala seseorang membandingk...

Kita Tidak Boleh Mempertanyakan Tuhan?

Semua berawal dari kedatangan seorang mahasiswi di sekolah saya dalam rangka menyelesaikan program dari kampusnya. Singkat cerita ia memasuki kelas dan sembari memperkenalkan diri dan memaparkan maksud dan tujuan nya datang di kelas saya. Selang beberapa waktu, ia mulai memaparkan materi sesuai dengan program studi yang sedang ia tempuh di kampusnya. Hingga tiba pada pembahasan mengenai filsafat. Ada sebuah argumen dari ia yang hingga hari ini masih membekas di memori saya. Bunyi nya seperti ini "Ketika seseorang mempelajari filsafat, ia akan cenderung mempertanyakan banyak hal. Namun, apabila ia mempertanyakan Tuhan ia harus berhenti. Karena kita tidak boleh merasionalkan Tuhan." Sekarang saya akan membahas dua kalimat terakhir dari argumen kakak mahasiswi itu. Namun, sebelum saya membahas dua kalimat terakhir dari penggalan argumen tersebut. Eloknya kita harus memahami makna filsafat terlebih dahulu Mengutip dari wikipedia, Filsafat terdiri dari dua kata "Philo" b...

Kala Posisi Tuhan Tergantikan

  Sebelum saya melanjutkan untuk membahas tema di atas, Saya ingin menyampaikan bahwa semua postingan di laman blog ini adalah opini dan pandangan pribadi tanpa ada maksud dan niat untuk merendahkan atau menyinggung pihak manapun. Baik, mari kita lanjut. Awal mula saya berpikir tentang tema ini adalah ketika saya mendengar lagu dari Ahmad Dhani bersama mendiang Chrisye judulnya "Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada" lagu ini berhasil membuat pikiran saya dipenuhi oleh jutaan pertanyaan yang masih terlalu dini untuk dipertanyakan oleh anak berusia 14 tahun (usia saya 5 tahun lalu) Beberapa pertanyaan yang muncul di kepala saya kurang lebih seperti ini: Apakah kita semua benar benar tulus atau hanya takut kepada neraka Nya? Apakah selama ini kita beribadah hanya sebagai ajang "cari muka" di hadapan Nya? Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah ada yang mengingat Nama Nya? Apakah kita hanya mengejar hadiah Nya? kurang lebih seperti itulah beberapa pertanyaan yang...

"Agama dan Sains seharusnya diadu atau dipadu?"

Latar belakang saya mengangkat topik ini bermula dari percakapan saya dengan seorang kawan lama tatkala saya menunjukkan buku Jared Diamond yang berjudul "Gun,Germ and Steel" Berikut percakapan saya: "Buku apa yang saat yang sekarang sedang kamu baca?" tanya nya sembari melirik buku yang berada di atas meja "oh ini? Ini buku sains karya Jared Diamond, saya suka buku ini karena meninjau sejarah manusia melalui kacamata seorang profesor geografi" jawabku "kamu suka baca buku sains? hati hati loh, nanti kamu menentang agama mu sendiri" balasnya "Kenapa seperti itu?" balasku bertanya "iya, karena sains dengan agama sangat berbenturan. Agama dan sains bak musuh abadi yang tak akan pernah bisa dipadukan" Tegasnya. Baiklah, Saya akan membahas topik tersebut menggunakan kacamata saya pribadi. Sains seringkali dibenturkan dengan ajaran ajaran agama. Pada halaman 533 buku "Gun,Germ and Steel" menjelaskan sains sebagai berikut:...

Menyingkap Rahasia Alam Semesta Melalui Kacamata Gregg Braden

Dalam bukunya yang menghancurkan paradigma, "Matriks Ketuhanan: Menjembatani Waktu, Ruang, Keajaiban, dan Keyakinan, Gregg Braden mengungkap perkawinan antara psikologi positif, fisika kuantum, dan spiritualitas. Dia membawa kita dalam perjalanan introspeksi dan penguasaan diri dengan "Matriks Ketuhanan" yang ditawarkan sebagai kunci yang menarik segala sesuatu ke dalam fisik dan karenanya, pemahaman dan penerapannya menjadi sumber penyembuhan, kegembiraan, dan kelangsungan hidup.  Krisis global pada akhir abad ke-20 mengilhami dia untuk meninggalkan perusahaan untuk melakukan pencarian penuh waktu untuk solusi yang dia yakini bertahan dalam kode tertua di masa lalu kita, memahami rahasia yang tersimpan dalam tradisi dan sains kuno, spiritualitas dan kepercayaan " berasal dari 5.000 SM hingga 2.000 tahun gulungan laut mati" (Braden, 2007). Dia merujuk pada karya-karya ilmuwan besar dan fisikawan untuk menjelaskan bahwa melalui alam gaib, cetak biru untuk hubung...

Para Remaja Pelaku Teror Busur di Makassar Harusnya Dibina Untuk Menjadi Atlet Panahan

  Akhir akhir ini kota Daeng diresahkan oleh kelakuan para remaja pelaku teror busur  panah yang menyasar orang secara random di berbagai tempat tempat keramaian. Mereka nampaknya sangat akurat dalam melontarkan anak panah ke sasaran.  Pelaku teror busur didominasi oleh para remaja atau anak baru gede yang katanya sedang mencari jati diri. Sebenarnya para bocah teroris ini dapat dengan mudah kita kenali dari gaya mereka berpakaian. Salah satu bocoran yang saya berikan adalah mereka selalu mengendarai motor matic sekelas mio,beat dan sejenisnya dan tak jarang penumpang (Sang pemanah) mengenakan hoodie dan memasukka kedua tangan mereka ke dalam saku hoodie tersebut, mungkin untuk menyembunyikan senjata pamungkas mereka. Sebenarnya pihak kepolisian sudah melakukan tindakan kepada para bocah bocah caper ini. Tapi karena mereka kebanyakan masih berusia di bawah umur, mereka hanya diberi pembinaan lalu kembali dilepas. Hal ini tak pernah memberi efek jera kepada para bocah bau ...